Agama: Sudut Pandang Picikku

Jadi sekarang agama jadi alasan diskriminasi ya? Jadi senjata penjatuhan individu atau kelompok lain ya? Kenapa bisa begitu?
Aku bukan orang suci,aku sendiri bukan penganut dan pelaku kehidupan beragama yang baik, apalagi taat. Aku cuma gerah melihat fenomena sekarang ini.

Jokowi diisukan kristen padahal dia muslim. Ahok dicecar karna dia kristen, aku sering dapat tatapan kasihan tiap kali kubilang aku satu-satunya muslim di rumah, bahkan pacarku dan teman dekatku ibadah tiap minggu di gereja. Kenapa harus begitu?

Kenapa antara muslim dan nasrani harus terus dipermasalahkan? I know ada sejarah pertentangan dari keduanya. Tapi aku pengen kasih lihat sudut pandangku, meskipun mungkin dangkal, naif atau bahkan sotoy.

Aku dibesarkan dari keluarga yang cukup liberal. Apalagi dari kakek nenek pihak ibuku yang masih menganut kejawen asli,belum mengenal agama. Pada masa Soeharto memutuskan setiap warga tionghoa harus punya nama nasional, saat itu juga baru ditetapkan warga juga harus mencantumkan agama di ktp masing masing. Jadilah kakek nenek tak penah pusing anaknya menganut agama apa. Hasilnya? Tiga orang muslim dan satu katolik. Ibuku seorang muslim yang biasa saja, begitu juga bapak. Waktunya salat pergi salat, ramadan tiba lantas puasa, ada harta yang bisa disisihkan beramal sebisa mungkin. Mereka bukan tipe fanatik, tapi bukan juga abangan. Bulik Tin, memilih masuk katolik saat beranjak smp. Sampai akhirnya merantau dan menikah dengan om yang seiman dengannya. Hidup damai dan makmur. Bulik warsi, lekat dengan kehidupan pesantren. Sampai sekarang tinggal di kawasan pesantren dengan suami dan lima anaknya. Almarhum om, adik bungsu ibuku lebih seperti aku, tipe toleran.

Hei.. aku ga segoblok itu kok. Aku pernah dirayu-rayu masuk nasrani. Aku juga pernah dicekoki paham anti nasrani. See, bisa dibilang aku pernah hampir dicuci otak dua paham yang bertolak belakang. Sayangnya tak ada yang mempan.
Aku justu muak dengan keduanya, untungnya juga tak merubah sedikitpun apa yang sudah jadi prinsipku. Menurutku Islam rahmatan lil alamin, islam adalah rahmat bagi semesta alam, ya manusianya, ya makhluk lainnya. Banyak dari literatur yang kubaca,dan sangat kukagumi justru menunjukkan islam sebagai agama yang toleran, dengan pemeluk yang mencintai kedamaian. Islam punya hukum yang fleksibel sesuai kondisi dan era masyarakatnya. Agama itu memudahkan dan mencerahkan, bukqn sebaliknya. Jadi, wajar bah  kalau aku meringis risih dengan kondisi sekarang. Islam bukan lagi pembawa rahmat, melainkan pembawa terror. Islam bukan disegani tapi ditakuti.
Aku sekarang tinggal bersama bulik Tin, yang keluarganya katolik taat. Aku tetap salat dan puasa seperti adanya. Bulik dan keluarganya, juga pacarku menghormati perbedaan kami. Bulik selalu menyisihkan lauk lain untukku yang dimasak khusus dengan peralatan terpisah saat beliau punya acara masak daging babi. Memperbolehkan aku kos selama bulan ramadan supaya aku beribadah lebih tenang. Sementara ibu di rumah seringkali mengingatkan ibadahku yang masih metal. Dari salat, mengaji sampai puasa senin kamis.

Intinya, coba lihat. Perbedaan prinsip itu bukan halangan untuk membangun hubungan antar manusia. Prinsipnya beda, tapi manusianya masih sama kan? Jadi, kenapa harus ribut? Kenapa agama harus jadi alasan terjadinya perang dan permusuhan? Tolong diingat, Islam rahmatan lil alamin sedangkan Kristus adalah pembawa kasih dan damai di dunia. Mari berhenti menyalah gunakan agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Silahkan ribut, tawuran atau perang tapi bawa alasan barbar kalian macam ketamakan atau kebencian, jangan bawa-bawa agama.

*sebenernya galau nulis begini. Takut dibilang kafir sama saudara muslim yang ga sepaham. Takut salah dikira ‘domba yang mendapat pencerahan’ dari yang nasrani. But then, who the hell are you to judge me? Apapun pendapat kalian, silakan saja. Cuma Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.

Samarinda, 24 Agustus 2014, 22:09

Advertisements

Tunggu Lift

image

Ini cerita beberapa hari yang lalu. Baru sempat cerita sekarang. Mumpung inget dan belum tergusur cerita lain.

Siang yang sibuk. Berhubung pagi hujan dan banjir. Perwakilan baru mengirim armadanya lewat tengah hari. Ditambah lagi anak-anak Home Center ga ada yang masuk kerja. Kerjaanku dobel. Terima barang elektronik bagianku. Juga barang Home Center kayak rak, lemari, sofa dan sring bed.

Rak dan lemari meski ringkas belum dirakit, termasuk barang berat. Spring bed, jelas berat besar pula. Barang-barang kayak gini tempatnya di lantai empat. Sialnya dari tiga lift barang, cuma satu lift yang nyampe lantai empat.

Mau ga mau, pengantar spring bed yang datang belakangan harus antri lift. Setelah semua rak naik. Giliran mereka naikkan bed king size ke atas.

Lift kami ini lift lelet. Lebih cepat jalan kaki naik turun tangga ketimbang ikut lift. Dua orang ini sampe bete nungguin lift turun. Sambil menunggu lift mereka mengamati dengan asyik bagian logistik loading muatan di bawah instruksi pak Dharmawan.

Yang lucu adalah pose mereka mengamati dan menunggu lift. Keduanya kompak gaya ‘istirahat di tempat’. Langsung aja kufoto. Memang kok dua orang ini cocok jadi sekuriti. Yang aatu sekuriti baik yang sikap tegak, yqng satu sekuriti asal.

Pengen rasanya aku teriak di belakang mereka,
“Siaaap grak! Lencang kanan grak! Maju jalan”
🙂 😀

Jumat, 30 Mei 2014

Galau : Softcore

Yep I’m coming back. Setelah bertahun tahun gak nulis sama sekali. Sebenarnya selama ini kegiatan nulis masih eksis. File-file di gadget ato yang masih tulisan cakar ayam tu bejibun, berserakan kayak sampah sisa pesta tahun baruan di sekitaran monas.

Walopun gak sekenceng dulu, masih berusaha mencetak sejarah diri sendiri, mencoba mempertahankan memori yang gak berapa tajam dan panjang. Sekaligus mencoba untuk mencari makna di balik setiap momen.

Kegalauanku buat nulis lagi dimulai dari betapa tragis hidupku belakangan ini. I used to be that easy going cheerful tough independent girl.

Tapi semuanya berubah. Auraku berubah dark and gloomy bahkan cenderung menye-menye. Gak siap mental kalo tulisan-tulisan model begitu musti dibagi. Mau dikemanakan mukaku yang cuma satu ini. Masak iya musti dilepas, dilipat lantas di sembunyikan dalam laci lemari?

Kegalauan yang kedua ada di masalah media. Hidupku berubah jauh ga secara mental tapi juga finansial. Yang artinya, gak ada lagi fasilitas selengkap dulu yang tinggal pakai. Sekarang segala macam gadget yang kubutuhkan musti diusahakan sendiri.

So… Dengan sukses aku ngambek nulis. Aku terlalu malu untuk melepas image dan terlalu miskin untuk pengadaan fasilitas nulis.

Jeng jreng jreng… Dan cahaya itu datang. Bukan kayak penggambaran sebagian besar filem, cahaya terang keemasan dengan sulurnya yang berkilau memeluk bumi.

Cahaya yang datang padaku lebih mirip titik merah nyala api rokok di tengah ruangan gelap mati listrik. Tapi itu lebih dari cukup. Setidaknya titik api iti bisa jadi harapan untuk kuikuti.

Kesimpulan yang kudapat adalah hidup ini memang penuh pencitraan bebeh, dan orang banyak bisa menciptakan pencitraan yang berbeda buat satu orang. Jadi apa bedanya aku jaim atau merubah citra. Toh cara pandang orang tetep aja bakalan beda-beda.

Dan soal fasilitas, euh, itu kan masalah kreatifitas aja kali. McGyver sudah buktikan, segala sesuatu ciptaan manusia itu bisa diakali, bahkan dengan perkakas sederhana yang tak terduga.

Jadi inilah aku. Dengan segala keterbatasan, siap menulis lagi dan membaginya pada dunia. Gak peduli orang mau bilang apa. Yang penting aku lega dan bisa jadi diriku sendiri!

Minggu, 18 Mei 2014

Aku Janda

Aku nggak pernah mimpi jadi janda. Sama sekali nggak pernah kepikiran.

Bayangan masa depan rumah tanggaku dulunya mirip kayak sinetron Keluarga Cemara (yang tau berarti seangkatan :D)Keluarga kecil bahagia sejahtera aman damai sentosa apapun sikonnya. Apapun masalahnya selalu ada solusinya. Bapak emaknya harmonis, anak-anaknya akur.

Tapi biar apapun bahasanya, tetep aja kenyataan tak seindah bayangan. Aku mesti melakoni pernikahan yang berantakan. Ujung-ujungnya ya cerai dan aku harus rela bawa status janda.

Ga masalah sih sebenernya. Toh, gak ada bedanya jadi janda. Kuanggap aja aq melajang buat yang kedua kalinya. Dengan sifatku yang tetep aja tomboy dan slebor abis, status janda gak ngefek. Aku tetep aja orang yg cuek setengah hidup. Eh, setengah mati.

Masalahnya justru dari orang sekeliling. Ada yang ngecap janda penggoda. Ada yang mandangnya kasian kayak liat pengemis buntung kudisan di jalan becek. Ada juga yang mandang janda tu perempuan kesepian yang gampang dijebak. Nehi. Aku gak sudi diliat begitu.

Itu alasan kenapa aku males ngomongin status jandaku. Buktinya orang welcome aja sama aku. Bilang aku orang yang asik, supel, cerah ceria sepanjang masa. Kata orang loh.

Tapi begitu tau aku janda, beh, bisik-bisik gak enak mulai terdengar. Sifatku ga lagi disebut supel ato ramah, tp punya sebutan baru. Buat cowok aku dibilang kegenitan, yang cewek bilangnya sok akrab.

Bah, bangke.Aku sih males ngeladenin omongan orang. Mereka cuma belum tau, belum bisa paham kenapa aku milih jalan jadi janda. Mereka cuma belum tau perjalanan kayak apa yang musti kutempuh.

Kalo nanti mereka tau, mungkin mereka bakal ngerti. Mungkin juga tambah jadi mencaci, ah anggep aja kayak lagu dangdut. Masbuloh. Masalah buat elo?

Rabu, 21 Mei 2014

Hari Kelulusan

Hari ini hari pengumuman kelulusan murid SMA/SMK sederajat di Samarinda. Sebenarnya aku gak tau sama sekali. Aku gak lagi perhatikan kalender pendidikan karena statusku bukan lagi pelajar/mahasiswa, secara KTP juga secara riil. Karena aku sekarang karyawan swasta yang sudah merelakan sia-sianya kuliahku bertahun-tahun. Aku baru sadar kalau hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Karena hari ini, sepulang kerja angkot yang ku tumpangi terjebak macet.
Aku lihat beberapa orang polisi sibuk mengatur lalu lintas. Tiba-tiba sebagian dari mereka berlarian ke jalur yang berlawanan. Tertarik, aku ikuti arah larinya polisi tadi. Puluhan anak sekolah, kusut, kumal dan cemong penuh coretan cat semprot warna warni. Remaja-remaja tanggung ini lah penyebab kemacetan. Dengan motor yang berisik dan kelengkapan berkendara yang sangat minim, mereka memenuhi badan jalan. Lucunya semuanya langsung mencoba brbalik arah ketika melihat polisi berlarian ke arah mereka. Ada yang langsung balik kanan begitu saja tak mempedulikan kalau mereka sudah menentang jalur. Mereka ini cukup beruntumg karena posisi mereka ada di pinggir jalan. Paling sial mereka harus naik ke trotoar yang agak tinggi. Ada juga yang sudah terlanjur berada di tengah jalur. Tanpa pikir panjang mereka berputar balik, berzigzag menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Beberapa yang terakhir putar balik dan mencoba melompati median jalan yang membelah lajur kiri dan kanan.
Aku tertawa, ada anak berhelm kuning, berskuter matic yang susah payah mendorong motornya melompati median jalan. Mukanya terlihat panik saat melihat polisi mendekat. Temannya yang membonceng buru-buru turun dan mengangkatkan ban depan skuter itu. Lalu ia beralih mendorong sambil mengangkat skuter dari belakang. Sukses melompati median jalan mereka ngebut sambil tertawa-tawa melewati angkot yang kutumpangi.
Selang seratus meter, aku melihat anak-anak yang berbalik arah bertemu teman mereka sesama cemong. Tak peduli satu sekolah atau bukan mereka meneriakkan peringatan adanya polisi. Rombongan ini cepat-cepat masuk ke belokan terdekat. Menghindari polisi yang akan menahan surat-surat mereka (kalau punya) juga menghindari hilangnya uang mereka secara percuma (tahu lah..polisi damai :D).
Di jalan masuk perumahan, aku melihat gerombolan cemong lagi, kali ini cewek. Tak tahu aku apa yang mereka omongkan, yang jelas rame banget. Aku melirik ke arah mereka sambil geleng-geleng kepala. Aku lihat beberapa di antara mereka melotot sengit padaku yang senyum-senyum sendiri. Mungkin buat mereka, aku ini betul-betul norak. Kayak gak pernah ngerayain lulus sekolah.
Sambil jalan kaki dari gerbang ke perumahan aku mengingat kelulusan SMA-ku dulu. Demi Tuhan, aku dulu gak pernah ngerayain kelulusanku dengan cara begitu. Bukannya begayaan ato sok alim, bah. Tapi memang sekolahku dulu punya cara jitu. Sampai murid-muridnya gak swmpat jadi gerombolan cemong penyebab kemacetan dan keributan di jalan.
Aku ingat betul. Tiga hari sebelum kelulusan, sekolah mewajibkan pengumpulan seragam sekolah. Mereka yang gak ngumpulin harus mengumpulkan surat pernyataan, lengkap dengan tanda tangan orang tua, isinya alasan kenapa gak bisa ikut ngumpulin seragam. Tak banyak yang menolak. Surat pernyataan yang terkumpul rata-rata beralasan baju yang diminta akan di berikan pada saudara atau tetangga yang masih perlu seragam sekolah. Terus pada malam sebelum pengumuman, kami dapat sms dari pihak BK. Isinya kami diminta ke sekolah memakai pakaian hitam tanda berkabung, karena ada teman yang meninggal. Tapi tak pernah disebut, siapa yang meninggal.
Hari kelulusan, murid kelas satu dan dua (sekarang kelas sepuluh sama sebelas ya?) diliburkan. Kami dikumpulkan di aula tanpa kecuali. Aura di aula sangat muram. Tambah lagi langit-langit aula ditutup kain warna hitam. Kami dengan baju hitam, ekspresi yang tercampur antara penasaran lulus atau gaknya dan juga penasaran soal siapa yang meninggal, kenapa meninggalnya mendadak banget. Ekspresi guru-guru juga bikin tambah tertekan. Tapi sekilas aku lihat guru bahasa Inggrisku menatapku. Meskipun mukanya muram tapi aku melihat kilatan jahil di matanya.
Aku gak mungkin salah lihat. Mister satu ini adalah guru terdekatku, di dalam atau di luar sekolah. Bahkan orang tuaku mempercayakanku padanya seperti orang tua mempercayakan adik pada kakaknya. Aku penasaran, apa maksudnya? Aku buru-buru mencari handphoneku. Sembunyi-sembunyi memencet-mencet tombol di dalam tas. Tanpa melihat pun aku tahu apa yang kutulis tanpa kuatir salah ketik. Aku bertanya pada mas Wi (lebih enak sebut begitu) aku ini lulus apa nggak. Mukanya cukup muram meski membalas smsku. Begitu handphoneku bergetar, aku melirik dalam tasku. Emoticonnya ketawa dan senyum. Katanya kalau semalam gak ada guru yang datang ke rumah, berarti aku aman. Haah, lega rasanya. Berarti aku lulus. Aku sudah mulai senyum-senyum sendiri, gak perhatiin beberapa guru mengatur sound system aula masih dengan muka-muka muram. Ku tanya lagi, siapa yang meninggal. Mas Wi malah menyebutku bodoh, karena aku gak sadar kalau orangnya di sebelahku. Bah. Aku langsung tengok kiri kanan. Lantas memakinya dalam smsku. Kubilang mana aku tahu, kan gak semua orang punya sixth sense kaya dia, toh? Aku mencoba lagi untuk mencari penjelasan dari mukanya. Percuma, masih ekspresi yang sama. Hingga akhirnya kepala sekolah mulai berpidato.
Kepala sekolah menyampaikan duka cita yang mendalam karena ada siswa yang meninggal. Beliau berkata sekolah akan kehilangan murid-murid yang meninggal. Tunggu, murid-murid? Lebih dari satu? Alo teman sekelasku langsung mengacungkan tangan dan menanyakan siapa yang meninggal. Karena menurutnya semua orang lengkap. Bahkan bisa dicek di daftar absen hari itu. Kepala sekolah menghela nafas berat. Beliau bilang kami semua sudah meninggal. Kami semua melongo. Kami, muda-mudi penerus bangsa yang masih cupu dan lebih dari dua ratus lima puluh orang ini meninggal semua? Di mana kami ini? Sekolah setan? Tiba-tiba kepala sekolah tersenyum lebar dan mengatakan bahwa memang kami semua sudah meninggal. Meninggalkan sekolah demi masa depan kami. Kami smua lulus. Kelulusan seratus persen. Sementara kami masih mencoba memahami apa yang terjadi, semua guru yang ada di aula tersenyum dan tertawa. Kain hitam yang menutupi langit-langit aula tersibak. Mengamburkan konfeti dan balon bermacam warna.
Penjelasan akhirnya diberikan. Semua ide gila dan konyol ini berawal dari kekhawatiran oara guru yang gak mau muridnya jadi pembuat onar di jalan saat kelulusan. Juga keprihatinan rusaknya seragam sekolah yang layak pakai, sementara lebih banyak orang lain yang membutuhkan. Dan inilah pengumuman kelulusan ala sekolah kami. Kami dipersilahkan corat-coret, bukan di baju atau badan, tapi di kain yang di sediakan sekolah. Keluar dari aula, di lapangan olah raga, kami disambut bentangan kain selebar satu meter yang melingkar membentuk labirin memenuhi lapangan. Ada banyak cat semprot dan spidol warna warni. Tak lama, kain sepanjang tiga ratus meter itu penuh dengan berbagai warna dan tulisan.
Jadi, bukan karena sok alim aku geleng-geleng kepala. Tapi memang karena aku justru mengalami momen kelulusan yang jauh lebih bersih, lebih tertib dan lebih berkesan.
Aku kembali tersenyum. Tak sadar sudah kulalui tanjakan di tikungan terakhir masuk ke blok B tempatku tinggal.

Samarinda, 20 Mei 2014